Sholat Dhuha hukumnya adalah sunnah muakkad. Karena itu, umat Muslim dianjurkan untuk mengerjakan ibadah ini, apalagi kalau bukan karena banyak keberkahan di dalamnya.
Mengerjakan sholat Dhuha sama saja dengan menghidupkan sunnah Rasulullah SAW. Bahkan, Rasulullah selalu mengerjakan sholat Dhuha, hingga para sahabat mengira bahwa Rasulullah tidak pernah meninggalkan sholat sunnah tersebut.
Hal itu dijelaskan dalam hadits riwayat Tirmidzi dan Ahmad dari Abu Sa’id Al-Khudri, yang artinya “Dari Abu Sa’id al Khudri ia berkata, ‘Nabi Muhammad SAW selalu sholat Dhuha sampai-sampai kami mengira bahwa beliau tidak pernah meninggalkannya, tetapi jika meninggalkannya sampai-sampai kami mengira bahwa beliau tidak pernah mengerjakannya.” (HR. TIrmidzi dan Ahmad dari Abu Sa’id Al-Khudri)
Dari hadits tersebut dapat diketahui bahwa Rasulullah SAW selalu melaksanakan ibadah sunnah ini. Lantas apa saja keberkahan yang bisa didapatkan umat Muslim ketika menjalankan sholat Dhuha?
Keberkahan Menunaikan Sholat Dhuha
Mengutip buku Berkah Shalat Dhuha oleh M. Khalilurrahman Al Mahfani, terdapat keberkahan dan keutamaan bagi umat Muslim yang melaksanakan sholat dhuha, di antaranya yaitu:
Sholat dhuha adalah sedekah
“Setiap ruas dari anggota tubuh di antara kalian pada pagi hari, harus dikeluarkan sedekahnya. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, dan mencegah kemungkaran adalah sedekah. Dan semua itu dapat disepadankan dengan mengerjakan sholat Dhuha dua rakat.” (HR. Muslim dari Abu Dzar)
Sholat dhuha sebagai investasi amal cadangan
“Sesungguhnya yang pertama kali dihisab pada diri hamba pada hari kiamat dari amalannya adalh sholatnya. Apabila benar (sholatnya) maka ia telah lulus dan beruntung, dan apabila rusak (sholatnya) maka ia akan kecewa dan rugi. Jika terdapat kekurangan pada sholat wajibnya, maka Allah berfirman, ‘Perhatikanlah, jikalau hamba-Ku mempunyai sholat sunah maka sempurnakanlah dengan sholat sunnah sekadar apa yang menjadi kekurangan pada sholat wajibnya. Jika selesai urusan sholat, barulah amalan lainnya.” (HR. Ash-habus Sunan dari Abu Hurairah RA)
Keuntungan di dunia dan akhirat
“Barangsiapa shalat dhuha 2 rakaat, ia tidak akan termasuk golongan pelupa/lalai. Barangsiapa shalat dhuha 4 rakaat, akan dimasukkan kepada golongan orang-orang yang taubat. Barang siapa shalat dhuha 6 rakaat, akan dicukupi kebutuhannya hari itu. Barangsiapa shalat dhuha 8 rakaat, termasuk golongan hamba-hamba yang patuh dan barangsiapa shalat dhuha 12 Rakaat maka Allah akan membangun baginya rumah di surga.” (HR. Thabrani dari Abu Darda’)
Dicukupi kebutuhan hidupnya
“Wahai anak Adam, rukuklah (sholatlah) karena Aku pada awal siang (sholat Dhuha) empat rakaat, maka Aku akan mencukupi (kebutuhan)mu sampai sore hari.” (HR. Tirmidzi)
Diampuni semua dosanya walau sebanyak buih di laut
“Barangsiapa yang menjaga sholat Dhuha, maka dosa-dosanya kaan diampuni walau sebanyak buih di lautan.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Istana di surga
“Barangsiapa sholat Dhuha dua belas rakat, maka Allah akan membangun baginya istana dari emas di surga.” (HR. TIrmidzi dan Ibnu Majah
Pahala haji dan umrah
“Barangsiapa yang sholat Subuh berjamaah kemudian duduk berdzikir untuk Allah sampai matahri terbit kemudian (dilanjutkan dengan) mengerjakan sholat Dhuha dua rakat, maka baginya seperti pahala haji dan umrah, sepenuhnya, sepenuhnya, sepenuhnya.” (HR. Tirmidzi)
Selain keberkahan yang dijelaskan dari beberapa hadits, umat Muslim dianjurkan untuk membaca doa setelah sholat Dhuha. Berikut bacaan doa setelah sholat dhuha yang dikutip dari buku Keajaiban Shalat Dhuha oleh Muhammad Abu Ayyas.
Doa Setelah Sholat Dhuha
اَللهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ اَللهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعْسِرًا (مُعَسَّرًا) فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ
Allāhumma innad dhuhā’a dhuhā’uka, wal bahā’a bahā’uka, wal jamāla jamāluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrata qudratuka, wal ishmata ishmatuka. Allāhuma in kāna rizqī fis samā’i fa anzilhu, wa inkāna fil ardhi fa akhrijhu, wa inkāna mu’siran (mu‘assaran) fa yassirhu, wa in kāna harāman fa thahhirhu, wa inkāna ba‘īdan fa qarribhu, bi haqqi duhā’ika wa bahā’ika wa jamālika wa quwwatika wa qudratika. ātinī mā atayta ‘ibādakas shālihīn.
Artinya: “Wahai Tuhanku, sungguh dhuha ini adalah dhuha-Mu, keagungan ini adalah keagungan-Mu, keindahan ini adalah keindahan-Mu, kekuatan ini adalah kekuatan-Mu, dan penjagaan ini adalah penjagaan-Mu. Wahai Tuhanku, jika rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah. Jika berada di dalam bumi, maka keluarkanlah. Jika sukar atau dipersulit (kudapat), mudahkanlah. Jika (tercampur tanpa sengaja dengan yang) haram, sucikanlah. Jika jauh, dekatkanlah dengan hak dhuha, keelokan, keindahan, kekuatan, dan kekuasaan-Mu, datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada para hamba-Mu yang saleh.”